Selasa, 30 Juli 2013
Kandungan Gizi dan Manfaat Talas Bagi Kesehatan - Talas merupakan salah satu sumber karbohidrat yang tremasuk kedalam umbi – umbian (seperti ubi kayu dan ubi jalar). Biasanya masyarakat kita mengkonsumsi talas hanya untuk camilan. Namun dibeberapa daerah di indonesia umbi talas ini dijadikan sebagai makanan pokok penggati beras. Umbi yang rasanya cukup lezat ini biasa dimasak dengan cara digoreng, direbus, ataupun dikukus. Manfaat utama umbi talas adalah sebagai bahan pangansumberkarbohidrat. Bagian tanaman ini yang dapat dimakan yaitu umbi, tunas muda, dan batang daun. selain itu umbi, pelepah, dan daun talas dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, obat, maupun pembungkus makanan, sedangkan daun, kulit dan ampas umbinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain dapat digunakan sebagai bahan pangan talas juga digunakan untuk minuman. Akar rimpangnya jika difermentasikan dan ditambah gula serta semacam jagung (Kaffir corn) dan air akan menjadi sejenis bir. Wahh,.wahhh ternyata dibalik kesederhanaan tanaman ini banyak tersimpan kegunaannya. Berikut adalah kandungandan manfaat talas bagi tubuh.
Sabtu, 27 Juli 2013
KARYA TULIS PENCEGAHAN DAN PERAWATAN CEDERA
KARYA TULIS PENCeGAHAN DAN PERAWATAN CEDERA
TENTANG
DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN CEDERA OLAHRAGA DISUSUN
OLEH
NAMA : ABDUL MAJID
NIM :
2101000510429JURUSAN : PJKR 2010 KELA : H
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU EKSAKTA DAN KEOLAHRAGAANPENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN
REKREASI IKIP BUDI UTOMO MALANG 2011 KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT.
atas segala nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga penelitian
ilmiah berjudul DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN CEDERA OLAHRAGA …ini dapat
terselesaikan. Penulis sangat tertarik untuk ikut serta memikirkan masalah
cedera pada atlit yang semakin tidak
terkendali, khususnya masalah cidera parah baik secara teknik maupun secara
sistemik.
Seiring dengan berkembangnya Olahraga di Indonesia, tidak terasa masalah-masalah
lingkungan pun bermunculan, hal ini tentunya tidak dibiarkan demikian saja
karena di lain pihak akan menimbulkan dampak yang merugikan. Usaha pemulihan
kembali masalah lingkungazzzn memang ada, tetapi usaha itu perlu ditingkatkan
lagi, khususnya pada penekanan pengolahan dan sistem yang efektif dan efisien
dalam penanganan sampah/limbah yang dihasilkan dari aktivitas kehidupan
masyarakat, khususnya dalam menata kembali manajemen operasinya. Dalam penulisan karya tulis ini, merupakan langkah awal penulis
untuk senantiasa peduli dan prihatin dengan permasalahan sampah yang terjadi
serta mampu berpikir secara sistemik dalam penanganan sampah dan manajemen
operasinya yang semakin menghantui kehidupan manusia. Dan besar harapan
penulis, karya tulis ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan mendapat tindak
lanjut untuk evaluasi pada tahap kegiatan kedepan.
Penyusun
DAFTAR ISI Halaman Judul …………………………………………………………… iKata Pengantar…… ………………………………………………....…… ii
Daftar Isi ……………………………………………………………......… iiiKeterangan
gambar............................................................................. 4BAB I PENDAHULUAN ……………………………………….....……... 5
1.1 Latar Belakang ……………………………….………........…… 5
1.2 Rumusan Masalah …………………………….........…………… 5
1.3 Tujuan ………………………………………..........……………. 5
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………........... 7
2.1 pengertian dan penyebab
cedera Olahrag.....…………...………. 7 2.2
pengertian patofisiologi dan diagnosis cedera Olahga.....………. 9
2.3 jenis
cedera Olahraga dan bagaimana csra penanganannya…....… 10
2.4 pencegahan
cedera dalam Olahraga ……..…………………….. 21
BAB III PENUTUP .…………………………………………………………
22
3.1 Kesimpulan ………………………………………………………. 22
3.2
Saran...................................................................................... 22DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 23
BAB IPENDAHULUAN 1.1 Latar
Belakang
Olahraga, baik yang bersifat olahraga prestasi maupun rekreasi merupakan
aktivitas yang
dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun
mental. Akan tetapi, olahraga yangdilakukan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah kesehatan
dapat pula menimbulkan dampak yangmerugikan bagi tubuh antara lain berupa cedera
olahraga. Cedera olahraga yang terjadi pada atletolahraga prestasi selain mengganggu kesehatan juga
dapat mengurangi kesempatan atlet tersebutuntuk berprestasi secara maksimal. Makalah ini
mengulas tentang karakteristik cedera olahragayang terjadi, penyebab cedera olahraga, jenis cedera
dan cara penanganan cedera olahraga.Tujuan akhir dari penanganan cedera olahraga adalah
untuk memaksimalkan proses pemulihancedera serta untuk meminimalkan terjadinya resiko
cedera ulang1.2 Rumusan
Masalah
1) Apakah pengertian dan penyebab cedera Olahraga?
2) Apakah pengertian patofisiologi dan diagnosis cedera
Olahraga?
3) Apakah sajakah jenis cedera Olahraga dan bagaimana
csra penanganannya?
4) Bagaimanakah
pencegahan cedera dalam Olahraga?
1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui pengertian
dan penyebab cedera Olahraga2) Untuk mengetahui pengertian
patofisiologi dan diagnosis cedera Olahraga3) Untuk mengetahui jenis
cedera Olahraga dan bagaimana csra penanganannya4) Untuk mengetahui pencegahan
cedera dalam OlahragaABSTRACT Sports injury refers to the kind
of injuries which most commonly occur during sports or
exercise. It usually involves the musculoskeletal system,
which includes the muscles, bones, andassociated tissues like cartilage. Atlet and couch
need to comprehend the causes, symtomps, andmanagement of sports injury to be able to participate
in the prevention, care and rehabilitation ofsports injury along the health care provider. The
treatment of sports injury depends on the type ofthe injury as well as the stage of injury. In the
acute phase of injury RICE principles (rest, ice,
compression and elevation) should be followed while for the chronic phase of
injury,
thermotherapy, manual therapy and exercise therapy can
be employed. The ultimate goal of therapy is to maximize the recovery process
and to prevent further injury.
BAB IIPEMBAHASAN 2.1. PENGERTIAN DAN PENYEBAB CEDERA OLAHRAGACedera olahraga
adalah cedera pada sistem integumen, otot dan rangka yang disebabkanoleh kegiatan olahraga. Cedera olahraga disebabkan
oleh berbagai faktor antara lain kesalahanmetode latihan, kelainan struktural maupun kelemahan
fisiologis fungsi jaringan penyokong danotot (Bahr et
al. 2003).
a. Kesalahan Metode LatihanMetode latihan
yang salah merupakan penyebab paling sering cedera pada otot dan sendi.Beberapa hal yang sering terjadi adalah :1. Tidak dilaksanakannya pemanasan dan pendinginan
yang memadai sehingga latihan fisikyang terjadi secara fisiologis tidak dapat diadaptasi
oleh tubuh.2. Penggunakan intensitas , frekuensi, durasi dan
jenis latihan yang tidak sesuai dengankeadaan fisik seseorang maupun kaidah kesehatan secara
umum.3. Prinsip latihan overload sering
diterjemahkan sebagai latihan yang didasarkan padaprinsip “no gain no pain” serta frekuensi
latihan yang sangat tinggi. Hal ini tidak tepatmengingat rasa nyeri merupakan sinyal adanya cedera
dalam tubuh baik berupa micro
injury maupun macro injury. Pada keadaan ini tubuh tidak memiliki waktu
untuk
memperbaiki jaringan yang rusak tersebut (Stevenson et
al. 2000). b. Kelainan Struktural.Kelainan
struktural bisa meningkatkan kepekaan seseorang terhadap cedera olah ragakarena pada keadaan ini terjadi tekanan yang tidak
semestinya pada bagian tubuh tertentu.Sebagai contoh,
jika panjang kedua tungkai tidak sama, maka pinggul dan lutut pada tungkaiyang lebih panjang akan mendapatkan tekanan yang lebih
besar. Faktor biomekanika yangmenyebabkan cedera kaki, tungkai dan pinggul adalah
pronasi (pemutaran kaki ke dalam setelahmenyentuh tanah). Pronasi sampai derajat tertentu
adalah normal dan mencegah cedera dengancara membantu menyalurkan kekuatan menghentak ke
seluruh kaki. Pronasi yang berlebihan bisamenyebabkan nyeri pada kaki, lutut dan tungkai.
Pergelangan kaki sangat lentur sehingga ketikaberjalan atau berlari, lengkung kaki menyentuh tanah
dan kaki menjadi rata. Jika seseorangmemiliki pergelangan kaki yang kaku, maka akan terjadi
hal sebaliknya yaitu pronasi yangkurang. Kaki tampak memiliki lengkung yang sangat
tinggi dan tidak dapat menyerap goncangandengan baik, sehingga meningkatkan resiko terjadinya
retakan kecil dalam tulang kaki dantungkai (fraktur karena tekanan) (Gleim et al. 1997).c. Kelemahan Otot, Tendon & Ligamen.Jika mendapatkan
tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya, maka otot,tendon dan ligamen akan mengalami robekan. Sendi lebih
peka terhadap cedera jika ototligamen yang menyokongnya lemah. Tulang yang rapuh
karena osteoporosis mudah mengalamipatah tulang (fraktkur). Latihan penguatan bisa
membantu mencegah terjadinya cedera. Satusatunyacara untuk memperkuat otot adalah berlatih melawan
tahanan, yang secara bertahapkekuatannya ditambah (Meeuwisse 1994). 2.2. PATOFISIOLOGI DAN DIAGNOSIS CEDERA OLAHRAGASecara umum
patofisiologi terjadinya cedera berawal dari ketika sel mengalamikerusakan, sel akan mengeluarkan mediator kimia yang
merangsang terjadinya peradangan.Mediator tadi
antara lain berupa histamin, bradikinin, prostaglandin dan leukotrien. Mediatorkimiawi tersebut dapat menimbulkan vasodilatasi
pembuluh darah serta penarikan populasi selsel kekebalan pada lokasi cedera. Secara fisiologis
respon tubuh tersebut dikenal sebagai prosesperadangan. Proses peradangan ini kemudian
berangsur-angsur akan menurun sejalan denganterjadinya regenerasi proses kerusakan sel atau
jaringan tersebut(Van Mechelen et al. 1992).Selain berdasarkan tanda dan gejala peradangan,
diagnosis ditegakkan berdasarkan keterangandari penderita mengenai aktivitas yang dilakukannya
dan hasil pemeriksaaan penunjang.a. Gejala Cedera OlahragaTanda akut
cedera olahraga yang umumnya terjadi adalah tanda respon peradanagantubuh berupa tumor ( pembengkakaan), kalor (peningkatan
suhu), rubor (warna merah), dolor(nyeri) dan functio leissa (penurunan fungsi).
Nyeri pertama kali muncul jika serat-serat ototatau tendon yang jumlahnya terbatas mulai mengalami
robekan.Selain nyeri muncul tandaradang seperti bengkak, kemerahan, panas dan penurunan
fungsi. Pada proses lanjut tandatandaperadangan tersebut akan berangsur angsur menghilang.
Apabila tanda peradangan awalcukup hebat, biasanya rasa nyeri masih dirasakan
samapai beberapa hari setelah onset cedera.Kelemahan fungsi berupa penurunan kekuatan dan
keterbatasan jangakauan gerak juga seringdijumpai (Stevenson et al. 2000).b. Pemeriksaan diagnostikPemeriksaan
diagnostik dilakukan untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari anamnesis(wawancara dengan penderita) serta pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukandapat berupa CT scan MRI, artroskopi, elektromyografi
dan foto rontgen. 2.3. JENIS CEDERA OLAHRAGA DAN PENANGANANNYAMenurut Bahr
(2003) secara umum macam-macam cedera yang mungkin terjadi adalah:cedera memar, cedera ligamentum, cedera pada otot dan
tendo, perdarahan pada kulit, danpingsan. Struktur jaringan di dalam tubuh yang sering
terlibat dalam cedera olahraga adalah:otot, tendo, tulang, persendian termasuk tulang rawan,
ligamen, dan fasia a. Memar (Contusio)Memar adalah
keadaan cedera yang terjadi pada jaringan ikat dibawah kulit. Memarbiasanya diakibatkan oleh benturan atau pukulan pada
kulit. Jaringan di bawah permukaan kulitrusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah
dan cairan seluler merembes ke jaringansekitarnya. Memar ini menimbulkan daerah kebiru-biruan
atau kehitaman pada kulit. Apabilaterjadi pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan
didaerah yang terbatas disebut hermatoma(Van Mechelen et al. 1992). Nyeri pada memar
biasanya ringan sampai sedang danpembengkakan yang menyertai sedang sampai berat.
Adapun memar yang mungkin terjadi padadaerah kepala, bahu, siku, tangan, dada, perut dan
kaki. Benturan yang keras pada kepala dapatmengakibatkan memar dan memungkinkan luka sayat.Penanganan Cedera Memar1. Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk
menghentikan pendarahan kapiler.2. Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan
mempercepat pemulihan jaringanjaringanlunak yang rusak.3. Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan
maupun pertandingan berikutnya.b. Cedera pada Otot atau Tendo dan LigamenMenurut Van
Mechelen (2004) cedera pada ligamentum dikenal dengan istilah sprain
sedangkan cedera pada otot dan tendo dikenal sebagai strain.1) SprainSprain adalah cedera pada ligamentum, cedera ini yang paling sering terjadi pada
berbagai cabang olahraga.” hal ini terjadi karena
stress berlebihan yang mendadak ataupenggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi.Berdasarkan Van Mechelen (2003) berat ringannya cedera
sprain dibagi menjadi tiga tingkatan,yaitua) Sprain Tingkat IPada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam
ligamentum dan hanya beberapaserabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri
tekan, pembengkatan dan rasa sakit padadaerah tersebut.b) Sprain Tingkat IIPada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum
yang putus, tetapi lebihseparuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera
menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan,pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya
tidak dapat menggerakkan persendiantersebut.c) Sprain Tingkat IIIPada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga
kedua ujungya terpisah.Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit,
terdapat darah dalam persendian,pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan
terdapat gerakan–gerakan yang abnormal.2) StrainStrain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan yang
berlebihan ataupun stress yang berlebihan. Bahr
(2003)membagi strain menjadi 3 tingkatan,yaitu:2) StrainStrain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo
karena penggunaan yang
berlebihan ataupun stress yang berlebihan. Bahr
(2003)membagi strain menjadi 3 tingkatan,yaitu:a) Strain Tingkat IPada strain tingkat I, terjadi regangan yang
hebat, tetapi belum sampai terjadi robekanpada jaringan otot maupun tendon.b) Strain Tingkat IIPada strain tingkat II, terdapat robekan pada
otot maupun tendon. Tahap inimenimbulkan rasa nyeri dan sakit sehingga terjadi
penurunan kekuatan otot.c) Strain Tingkat IIIPada strain tingkat III, terjadi robekan total
pada unit musculo tendineus. Biasanyahal ini membutuhkan tindakan pembedahan, kalau
diagnosis dapat ditetapkan.Adapun strain dan sprain yang mungkin
terjadi dalam cabang olahraga renang yaitu punggung,dada, pinggang, bahu, tangan, lutut, siku, pergelangan
tangan dan pergelangan kaki.Penanganan Strain dan Sprain
Bahr (2003) menyatakan bebrapa hal dapat mengatasi
strain dan sprain yaitu :(a) Sprain/strain tingkat satuPada keadaan ini, bagian yang mengalami cedera cukup
diistirahatkan untuk memberikesempatan regenerasi.(b) Sprain/strain tingkat duaPada keadaan ini penanganan yang dilakukan adalah
berdasarkan prinsip RICE (Rest,
Ice, Compession and Elevation). Tindakan istirahat yang
dilakukan sebaiknya dalam bentuk
fiksasi dan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan
agar bagian yang cedera tidak dapatdigerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs.
Tindakan imobilisasi dilakukan selama3-6 minggu. Terapi dingin yang dilakukan dilakukan
pada fase awal cedera. Pada fase lanjutterapi dingin digantikan dengan terapi panas. Pada
keadaan subkronis dimana tanda tandaperadangan sudah menurun dilakukan terapi manual
berupa massage. Pada fase akhir dapatdilakukan terapi latihan untuk memaksimalkan proses
penyembuhan.(c) Sprain/strain tingkat tigaPada keadaan ini, penderita diberi pertolongan pertama
dengan metode RICE dansegera diikirim kerumah sakit untuk dijahit dan
menyambung kembali robekan ligamen, ototmaupun tendo.c. DislokasiDislokasi adalah
terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya. Dislokasiyang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi
di bahu, angkle (pergelangan kaki), lututdan panggul. Faktor yang meningkatkan resiko dislokasi
adalah ligamen-ligamennya yangkendor akibat pernah mengalami cedera, kekuatan otot
yang menurun ataupun karena faktoreksternal yang berupa tekanan energi dari luar yang
melebihi ketahanan alamiah jaringan dalamtubuh (Stevenson et al. 2000). Penanganan DislokasiMenurut
Stevenson (2000) prinsip dasar penanganan dislokasi adalah reposisi. Reposisipada keadaan akut (beberapa saat setelah cedera
sebelum terjadinya respon peradangan) dapatdilakukan dengan lebih mudah. Pada keadaan akut dimana
respon peradanagan sudah terjadi,reposisi relatif sukar untuk dilakukan. Pada keadaan
ini, direkomendasikan untuk menungguberkurangnya respon peradangan. Pada keadaan kronis
dimana respon peradanagn sudahberkurang, reposisi dapat dilakukan dengan jalan melemaskan
kembali persendian supaya dapatdilakukan penarikan dan pergeseran tulang dengan lebih
mudah. Pelemasan jaringan persendiandapat dilakukan dengan terapi panas maupun dengan manual
therapy pada bagian proksimal dandistal lokasi yang mengalami dislokasi. Penanganan
yang dilakukan pada saat terjadi dislokasiadalah melakukan reduksi ringan dengan cara menarik
persendian yang bersangkutan padasumbu memanjang. Setelah reposisi berhasil dilakukan,
sendi tersebut difiksasi selama 3-6minggu untuk mengurangi resiko terjadinya dislokasi
ulang. Apabila rasa nyeri sudah minimal,dapat dilakukan exercise therapy secara
terbatas untuk memperkuat struktur persendian danmemperkecil resiko dislokasi ulang (Meeuwisse 1994). d. Patah Tulang (Fraktur)Patah tulang
adalah suatu keadaan yang mengalami keretakan, pecah atau patah, baikpada tulang maupun tulang rawan. Bahr (2003) membagi
fraktur berdasarkan continuitas
patahan, patah tulang dapat digolongkan menjadi dua
yaitu:1. Patah tulang komplek, dimana tulang terputus sama
sakali.2. Patah tulang stress, dimana tulang retak, tetapi
tidak terpisah.Sedangkan, berdasarkan tampak tidaknya jaringan dari
bagian luar tubuh, Bahr (2003) membagipatah tulang manjadi:1. Patah tulang terbuka dimana fragmen (pecahan)
tulang melukai kulit diatasnya dan tulangkeluar.2. Patah tulang tertutup dimana fragmen (pecahan)
tulang tidak menembus permukaan kulit.Penanganan Patah TulangHal yang harus
dilakukan pada keadaan patah tulang adalah olahragawan tidak bolehmelanjutkan pertandingan. Penderita harus segera
direposisi oleh tenaga medis secepat mungkin dalam waktu kurang dari lima belas menit, sebelum
terjadi respon peradangan jaringan lunakyang dapat mengganggu proses reposisi. Setelah
dilakukan reposisi bagian yang mengalamipatah tulang kemudian difiksasi dengan spalk balut
tekan untuk mempertahankan kedudukanyang baru, serta menghentikan perdarahan.e. Kram OtotKram otot adalah
kontraksi yang terus menerus yang dialami oleh otot atausekelompok otot dan mengakibatkan rasa nyeri. penyebab
kram adalah otot yang terlalu lelah,kurangnya pemanasan serta peregangan, adanya gangguan
sirkulasi darah yang menuju ke ototsehingga menimbulkan kejang (Parkkari et al. 2001).
Beberapa hal yang dapat menimbulkankram antara lain adalah :1. Kelelahan otot saat berolahraga sehingga terjadi
akumulasi sisa metabolik yangmenumpuk berupa asam laktat kemudian merangsang otot/
saraf hingga terjadi kram.2. Kurang memadainya pemanasan serta pendinginan
sehingga tubuh kurang memilikikesempatan untuk melakukan adaptasi terhadap latihan
(Parkkari et al. 2001).Penanganan KramPenanganan cedera pada umumnya terhadap kram otot yang
dilakukan adalah sebagai berikut:1. Atlet diistirahatkan, diberikan semprotan chlor
ethyl spray untuk menghilangkan rasanyeri/sakit yang bersifat lokal dan atau es.2. Menahan otot waktu berkontraksi supaya myiosin
filament dan actin myosin dapatmenduduki posisi yang semestinya sehingga kram
berhenti. Pada waktu ditahan dapatdisemprot dengan chlor etyl spray, hingga
hilang rasa nyeri.f. PerdarahanPerdarahan terjadi karena pecahnya pembuluh darah
sebagai akibat dari trauma pukulanatau terjatuh. Gangguan perdarahan yang berat dapat
menimbulkan gangguan sirkulasi sampaimenimbulkan shocks (gangguan kesadaran) (Van Mechelen et
al. 1992). Penanganan PerdarahanPendarahan pada HidungPada perdarahan hidung, hal yang harus dikontrol
terutama adalah airway (jalan nafas)dan breathing (pernapasan). Menurut Bahr
(2003), beberapa hal yang dapat dilakukan adalah :(1) Penderita didudukan, batang hidung dijepit sedikit
kebawah tulang rawan hidung,dalam posisi ibu jari berhadapan dengan jari-jari yang
lain. Hal ini dilakukan kurang lebih 5menit dengan jari tangan sementara penderita
dianjurkan bernafas melalui mulut(2) Hidung dan mulut dibersihkan dari bekas-bekas
darah. Biasanya pendarahan akanberhasil dihentikan. Sebaiknya juga diberikan kompres
dingin disekitar batang hidung, sekitarmata hingga pipi.(3) Bila pemijatan tidak berhasil, maka atlet harus
diberi perlotongan oleh dokter ataudibawa kerumah sakit. Pada keadaan ini kemungkinan
besar perdarahan disertai patah tulang,kadang-kadang deformitas dapat terjadi.(4) Bila terjadi fraktur atau retak pada tulang
hidung, maka untuk menghentikanpendarahan pada hidung tidak boleh dipijit, tetapi
hanya diberi kompres dingin saja, lalu dikirimkerumah sakit. Pada keadaan ini, tidak diperkenankan
untuk meniupkan udara dari hidungdengan paksa untuk mengeluarkan bekuan-bekuan darah,
karena ini dapat menimbulkan emboliparu.b) Pendarahan pada mulutSeperti halnya pada perdarahan hidung, penanganan
perdarahan pada mulut harusmemperhatikan aspek airway (jalan napas) dan breathing
(pernapasan). Beberapa hal yang dapatdilakukan antara lain adalah:(1) Pendarahan dari bibir atau gusi dihentikan dengan
penekanan secara langsung dankompres dingin.(2) Apabila gigi goyang atau fraktur, gigi tidak boleh
dicabut dan atlet dikirim untuk
penanganan lanjut di dokter gigi.g. Kehilangan Kesadaran (Pingsan)Pingsan adalah
keadaan kehilangan kesadaran yang bersifat sementara dan singkat, disebabkan oleh berkurangnya aliran darah, oksigen, dan
glukosa. Hal merupakan akibat dari (1)Aktivitas fisik yang berat sehingga mennyebabkan
deposit oksigen sementara. (2) Pengalirandarah atau tekanan darah yang menurun karena
pendarahan hebat. (3) Karena jatuh dan benturan.Terdapat beberapa macam penyebab pingsan yaitu:a) Pingsan biasa (simple fainting)Pingsan jenis ini misalnya dijumpai pada orang-orang
berdiri berbaris diterik matahari,atau orang yang anemia (kurang darah), lelah, takut,
tidak tahan melihat darah.b) Pingsan karena panas (heat exhaustion)Pingsan jenis ini terjadi pada orang-orang sehat
bekerja ditempat yang sangat panas. Penanganan Kehilangan Kesadaran (Pingsan)(1) Mengeluarkan atau membawa olahragawan ke tempat
yang tenang dengan posisiterlentang dan kepala tanpa bantal.(2) Melakukan pemeriksaan dengan lebih teliti lagi
mengenai refleks pupil. Jika ditemukanantara pupil mata kanan dan kiri (anisokur) ini
berarti bukan semata-mata gegar ringantetapi dalam keadaan gawat. h. LukaLuka
didefinisikan sebagai suatu ketidaksinambungan dari kulit dan jaringan
dibawahnyayang mengakibatkan pendarahan yang kemudian dapat
mengalami infeksi. Seluruh tubuhmempunyai kemungkinan besar untuk mengalami luka,
karena setiap perenang akan melakukankontak langsung pada saat latihan dan bisa juga luka
karena peralatan yang dipakai. (Stevensonet al. 2000)
Penanganan LukaLuka dibersihkan dari kotoran dengan jalan dicuci
dengan hidrogen peroksida (H202) 3%yang bersifat antiseptik (membunuh bibit penyakit),
detol atau betadine, PK (kalium permangat)ataupun dengan sabun. Setelah luka dikeringkan lalu
diberikan obat-obatan yang mengandungantiseptik dan bersifat mengeringkan luka, misalnya:
obat merah, yodium tingtur, larutanbetadine pekat. Apabila luka robek lebih dari 1cm,
sebaiknya dijahit.b) Apabila lepuhnya robek, kulit dipotong kemudian
dibersihkan dan dibebat dengan bahan yangtidak melekat. Apabila lepuh utuh dan tidak mudah
robekluk langsung dibersihkan dan dibebat dengan bahan yang tidak melekat
(Stevenson et al. 2000).
2.4. PENCEGAHAN CEDERA OLAHRAGAMenurut
Stevenson (200), beberapa hal yang perlu dilakukan untukmencegah terjadinya
cederaolahraga
antara lain adalah:a) 1. Pemeriksaan awal sebelum melakukan olahraga untuk
menentukan ada tidaknya
b) kontraindikasi dalam berolahraga
c) 2. Melakukan olahraga sesuai dengan kaidah baik,
benar, terukur dan teratur
d) 3. Menggunakan sarana yang sesuai dengan olahraga yang
dipilih
e) 4. Memperhatikan kondisi prasarana olahraga
f)
5. Memperhatikan lingkungan fisik seperti suhu dan kelembaban udara
sekelilingnya BAB IIIPENUTUP 3.1 KesimpulanPada umumnya penatalaksanaan cedera olahraga
menggunakan prinsip RICE (Rest, Ice,
Compression, Elevation) yang selalu diterapkan pada fase akut cedera sebelum
penanganan
selanjutnya. Indikasi RICE dilakukan pada cedera akut
atau kronis eksaserbasi akut, sepertihematome (memar), sprain, strain, patah
tulang tertutup, dislokasi setelah dilakukan reposisi.Secara umum penanganan cedera olahraga disesuaikan
dengan jenis cedera dan prosespatofisiologi cedera yang mendasari. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan untuk mencegahterjadinya cedera olahraga antara lain adalah perlu
dilakukan kegiatan pemanasan denganmelibatkan latihan dinamis maupun statis dan perlu
dilakukan pengaturan progresi latihan yang baik agar latihan dapat diadaptasi
dengan baik oleh tubuh 3.2
SaranTujuan akhir dari penanganan cedera olahraga adalah
untuk memaksimalkan proses pemulihancedera serta untuk meminimalkan terjadinya resiko cedera ulang DAFTAR PUSTAKAv
Bahr, R. and I. Holme (2003). "Risk factors for sports injuries—a
methodological approach." British journal of sports medicine 37(5): 384.
v
Gleim, G. W. and M. P. McHugh (1997). "Flexibility and its effects on
sports injury and performance." Sports Medicine 24(5): 289‐299.
v
Meeuwisse, W. H. (1994). "Assessing causation in sport injury: a
multifactorial model." Clinical Journal of Sport Medicine 4(3): 166.
v
Parkkari, J., U. M. Kujala, et al. (2001). "Is it Possible to Prevent
Sports Injuries?: Review of Controlled Clinical Trials and Recommendations for Future Work." Sports Medicine 31(14):
985‐995.
v
Stevenson, M. R., P. Hamer, et al. (2000). "Sport, age, and sex
specific incidence of sports injuries in Western Australia." British journal of sports medicine 34(3):
188.
v
Van Mechelen, W., H. Hlobil, et al. (1992). "Incidence, severity,
aetiology and prevention of sports injuries. A review of concepts." Sports Medicine (Auckland, NZ) 14(2): 82.
Langganan:
Postingan (Atom)