Selasa, 30 Juli 2013

Kandungan Gizi dan Manfaat Talas Bagi Kesehatan - Talas merupakan salah satu sumber karbohidrat yang tremasuk kedalam umbi – umbian (seperti ubi kayu dan ubi jalar). Biasanya masyarakat kita mengkonsumsi talas hanya untuk camilan. Namun dibeberapa daerah di indonesia umbi talas ini dijadikan sebagai makanan pokok penggati beras. Umbi yang rasanya cukup lezat ini biasa dimasak dengan cara digoreng, direbus, ataupun dikukus. Manfaat utama umbi talas adalah sebagai bahan pangansumberkarbohidrat. Bagian tanaman ini yang dapat dimakan yaitu umbi, tunas muda, dan batang daun. selain itu umbi, pelepah, dan daun talas dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, obat, maupun pembungkus makanan, sedangkan daun, kulit dan ampas umbinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain dapat digunakan sebagai bahan pangan talas juga digunakan untuk minuman. Akar rimpangnya jika difermentasikan dan ditambah gula serta semacam jagung (Kaffir corn) dan air akan menjadi sejenis bir. Wahh,.wahhh ternyata dibalik kesederhanaan tanaman ini banyak tersimpan kegunaannya. Berikut adalah kandungandan manfaat talas bagi tubuh.
Kandungan Gizi Talas
Dalam talas terdapat kandungan karbohidrat yang cukup tinggi, rendah lemak dan terdapat kandungan serat yang cukup baik untuk memperlancar kerja pencernaan. Kandungan vitamin yang terdapat dalam umbi talas diantaranya vitamin C, vitamin E, vitamin B6, dan betakaroten.
Banyaknya Talas yang diteliti  = 100 grBagian Talas yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 85 %Jumlah Kandungan Energi Talas = 98 kkalJumlah Kandungan Protein Talas = 1,9 grJumlah Kandungan Lemak Talas = 0,2 grJumlah Kandungan Karbohidrat Talas = 23,7 grJumlah Kandungan Kalsium Talas = 28 mgJumlah Kandungan Fosfor Talas = 61 mgJumlah Kandungan Zat Besi Talas = 1 mgJumlah Kandungan Vitamin A Talas = 20 IUJumlah Kandungan Vitamin B1 Talas = 0,13 mgJumlah Kandungan Vitamin C Talas = 4 mgKhasiat / Manfaat Talas : - (Belum Tersedia)Huruf Awal Nama Bahan Makanan : TSumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Manfaat Talas
  • Sebagai makanan pokok pengganti nasi, di beberapa daerah di Indonesia umbi talas dijadikan makanan pokok seperti di daerah Mentawi-Sumatera Barat, dan Irian Barat.
  • Sebagai Sayuran, batang dan daun tanaman talas dapat diolah menjadi sayuran seperti Buntil.
  • Menjadi bahan olahan Industri, umbi talas biasanya diolah menjadi keripik dalam jumlah besar oleh indutri-industri rumahan atau industri skala besar.
  • Untuk Pakan ternak, batang dan daun talas selain bisa diolah menjadi sayur untuk makanan manusia dapat juga diolah menjadi pakan tenak seperti Babi.
  • Tepung talas, selain dapat diolah menjadi keripik, umbi talas juga dapat diolah menjadi tepung. Tepung talas dapat digunakan sebagai bahan baku makanan ringan atau kue.

Khasiat Talas Bagi Kesehatan
  • Umbi talas memiliki efek farmakologis anti pembengkakan (antiswelling). Kandungan kimia yang ada dalam tumbuhan ini adalah zat besi, kalsium, garam fosfat, protein, vitamin A dan B. Bagian yang bisa dipakai adalah daun, umbi, dan seluruh tumbuhan
  • Talas merupakan sumber pangan yang penting karena selain merupakan sumber karbohidrat, protein dan lemak, talas juga mengandung beberapa unsur mineral dan vitamin.
  • Penggunaan talas sebagai obat tradisional adalah pembuatan bubur akar rimpang talas yang dipercaya sebagai obat encok.
  • Selain itu cairan akar rimpang sebagai obat bisul, sementara getah daunnya sering digunakan untuk menghentikan pendarahan karena luka dan sebagai obat untuk bengkak.
  • Pelepah dan tangkai daun yang dipanggang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi gatal-gatal. Pelepah daun juga diyakini mampu mengobati gigitan kalajengking
  • Dalam 100 gram talas kukus tanpa bumbu, terdapat 142 kalori. Mayoritas kalori berasal dari karbohidratnya. Hebatnya, dalam 100 gram itu lemaknya cuma 0,75 gram, sedangkan seratnya sebanyak 5,3 gram. Jumlah ini sudah memenuhi 20,5% kebutuhan serat Anda dalam sehari. Serat sangat bagus untuk memperlancar kerja pencernaan.
  • Talas juga menjaga kolesterol darah tetap rendah.
  • Bagi Anda yang sedang dalam program penyembuhan dari gangguan kolesterol dan sodium yang tinggi, talas sangat layak Anda pilih.
  • Mengonsumsi talas dapat mencegah risiko gangguan jantung dan tekanan darah tinggi. Talas rebus tanpa tambahan apa pun, 100% bebas dari kolesterol. Kandungan sodium dalam 1 cangkir (132 gram) talas hanyalah 20 mg, atau hanya 1% dari konsumsi batasan konsumsi sodium harian.
  • Setiap 1 cangkir talas mengandung 11% vitamin C sumber zat antioksidan. Bila tubuh sedang rawan terkena flu, vitamin C memperkuat pertahanan tubuh dengan membantu percepatan gerak sel darah putih.
  • Makan 1 cangkir talas juga dapat memenuhi 19% vitamin E dan 22% vitamin B6 kebutuhan harian Anda. Bersama dengan vitamin C, vitamin B6 juga membantu menjaga imunitas tubuh, sedangkan vitamin E menurunkan risiko terkena serangan jantung.
  • Kandungan beta carotene (nutrisi setara vitamin A) pada talas bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, kulit, dan meningkatkan fertilitas.
  • Kekayaan gizi talas makin lengkap dengan muatan beragam mineral. Satu cangkir talas mengandung 10% magnesium dan fosfat, dan 13% tembaga yang kita butuhkan setiap hari.
  • Talas juga bahan pangan sempurna, karena setiap cangkirnya mengandung 18% potasium, 30% mangan, dan kalium yang Anda butuhkan. Potasium berguna untuk menjaga kerja jantung dan tekanan darah, mangan menjadi andalan lancarnya metabolisme protein dan lemak di dalam tubuh, sementara  kalium baik untuk menjaga kesehatan jantung.

Sabtu, 27 Juli 2013

KARYA TULIS PENCEGAHAN DAN PERAWATAN CEDERA

KARYA TULIS PENCeGAHAN DAN PERAWATAN CEDERA
TENTANGDIAGNOSIS DAN MANAJEMEN CEDERA OLAHRAGA                                                        DISUSUN OLEH                                                

NAMA            : ABDUL MAJID                                                

NIM                : 2101000510429JURUSAN      : PJKR 2010    KELA : H                                                                                                                                                                                         
                                                      
  FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU EKSAKTA DAN KEOLAHRAGAANPENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI IKIP BUDI UTOMO MALANG 2011  KATA PENGANTAR      
      
Syukur Alhamdulillah selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga penelitian ilmiah berjudul  DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN CEDERA OLAHRAGA …ini dapat terselesaikan. Penulis sangat tertarik untuk ikut serta memikirkan masalah cedera pada atlit  yang semakin tidak terkendali, khususnya masalah cidera parah baik secara teknik maupun secara sistemik.
 Seiring dengan berkembangnya Olahraga  di Indonesia, tidak terasa masalah-masalah lingkungan pun bermunculan, hal ini tentunya tidak dibiarkan demikian saja karena di lain pihak akan menimbulkan dampak yang merugikan. Usaha pemulihan kembali masalah lingkungazzzn memang ada, tetapi usaha itu perlu ditingkatkan lagi, khususnya pada penekanan pengolahan dan sistem yang efektif dan efisien dalam penanganan sampah/limbah yang dihasilkan dari aktivitas kehidupan masyarakat, khususnya dalam menata kembali manajemen operasinya. Dalam penulisan karya tulis ini, merupakan langkah awal penulis untuk senantiasa peduli dan prihatin dengan permasalahan sampah yang terjadi serta mampu berpikir secara sistemik dalam penanganan sampah dan manajemen operasinya yang semakin menghantui kehidupan manusia. Dan besar harapan penulis, karya tulis ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan mendapat tindak lanjut untuk evaluasi pada tahap kegiatan kedepan.                                                                                                     Penyusun                                                                               
 DAFTAR ISI  Halaman Judul ……………………………………………………………   iKata Pengantar…… ………………………………………………....……   ii
Daftar Isi ……………………………………………………………......…    iiiKeterangan gambar.............................................................................    4BAB I PENDAHULUAN ……………………………………….....……...    5
            1.1 Latar Belakang ……………………………….………........……    5
            1.2 Rumusan Masalah …………………………….........……………   5
            1.3 Tujuan ………………………………………..........…………….    5
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………...........   7
            2.1 pengertian dan penyebab cedera Olahrag.....…………...……….     7            2.2 pengertian patofisiologi dan diagnosis cedera Olahga.....……….    9
            2.3 jenis cedera Olahraga dan bagaimana csra penanganannya....…   10
            2.4 pencegahan cedera dalam Olahraga ……..……………………..      21
BAB III PENUTUP .…………………………………………………………   22
            3.1 Kesimpulan ……………………………………………………….  22
            3.2 Saran......................................................................................  22DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..  23
                     BAB IPENDAHULUAN 1.1  Latar Belakang
            Olahraga, baik yang bersifat olahraga prestasi maupun rekreasi merupakan aktivitas yang
dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Akan tetapi, olahraga yangdilakukan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah kesehatan dapat pula menimbulkan dampak yangmerugikan bagi tubuh antara lain berupa cedera olahraga. Cedera olahraga yang terjadi pada atletolahraga prestasi selain mengganggu kesehatan juga dapat mengurangi kesempatan atlet tersebutuntuk berprestasi secara maksimal. Makalah ini mengulas tentang karakteristik cedera olahragayang terjadi, penyebab cedera olahraga, jenis cedera dan cara penanganan cedera olahraga.Tujuan akhir dari penanganan cedera olahraga adalah untuk memaksimalkan proses pemulihancedera serta untuk meminimalkan terjadinya resiko cedera ulang1.2  Rumusan Masalah
1)      Apakah  pengertian dan penyebab cedera Olahraga?
2)      Apakah  pengertian patofisiologi dan diagnosis cedera Olahraga?
3)      Apakah  sajakah jenis cedera Olahraga dan bagaimana csra penanganannya?
4)      Bagaimanakah pencegahan cedera dalam Olahraga?
1.3  Tujuan
1)      Untuk mengetahui pengertian dan penyebab cedera Olahraga2)      Untuk mengetahui pengertian patofisiologi dan diagnosis cedera Olahraga3)      Untuk mengetahui jenis cedera Olahraga dan bagaimana csra penanganannya4)      Untuk mengetahui pencegahan cedera dalam OlahragaABSTRACT Sports injury refers to the kind of injuries which most commonly occur during sports or
exercise. It usually involves the musculoskeletal system, which includes the muscles, bones, andassociated tissues like cartilage. Atlet and couch need to comprehend the causes, symtomps, andmanagement of sports injury to be able to participate in the prevention, care and rehabilitation ofsports injury along the health care provider. The treatment of sports injury depends on the type ofthe injury as well as the stage of injury. In the acute phase of injury RICE principles (rest, ice,
compression and elevation) should be followed while for the chronic phase of injury,
thermotherapy, manual therapy and exercise therapy can be employed. The ultimate goal of therapy is to maximize the recovery process and to prevent further injury.
            BAB IIPEMBAHASAN 2.1. PENGERTIAN DAN PENYEBAB CEDERA OLAHRAGACedera olahraga adalah cedera pada sistem integumen, otot dan rangka yang disebabkanoleh kegiatan olahraga. Cedera olahraga disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kesalahanmetode latihan, kelainan struktural maupun kelemahan fisiologis fungsi jaringan penyokong danotot (Bahr et al. 2003).                                    
a. Kesalahan Metode LatihanMetode latihan yang salah merupakan penyebab paling sering cedera pada otot dan sendi.Beberapa hal yang sering terjadi adalah :1. Tidak dilaksanakannya pemanasan dan pendinginan yang memadai sehingga latihan fisikyang terjadi secara fisiologis tidak dapat diadaptasi oleh tubuh.2. Penggunakan intensitas , frekuensi, durasi dan jenis latihan yang tidak sesuai dengankeadaan fisik seseorang maupun kaidah kesehatan secara umum.3. Prinsip latihan overload sering diterjemahkan sebagai latihan yang didasarkan padaprinsip “no gain no pain” serta frekuensi latihan yang sangat tinggi. Hal ini tidak tepatmengingat rasa nyeri merupakan sinyal adanya cedera dalam tubuh baik berupa micro
injury maupun macro injury. Pada keadaan ini tubuh tidak memiliki waktu untuk
memperbaiki jaringan yang rusak tersebut (Stevenson et al. 2000).  b. Kelainan Struktural.Kelainan struktural bisa meningkatkan kepekaan seseorang terhadap cedera olah ragakarena pada keadaan ini terjadi tekanan yang tidak semestinya pada bagian tubuh tertentu.Sebagai contoh, jika panjang kedua tungkai tidak sama, maka pinggul dan lutut pada tungkaiyang lebih panjang akan mendapatkan tekanan yang lebih besar. Faktor biomekanika yangmenyebabkan cedera kaki, tungkai dan pinggul adalah pronasi (pemutaran kaki ke dalam setelahmenyentuh tanah). Pronasi sampai derajat tertentu adalah normal dan mencegah cedera dengancara membantu menyalurkan kekuatan menghentak ke seluruh kaki. Pronasi yang berlebihan bisamenyebabkan nyeri pada kaki, lutut dan tungkai. Pergelangan kaki sangat lentur sehingga ketikaberjalan atau berlari, lengkung kaki menyentuh tanah dan kaki menjadi rata. Jika seseorangmemiliki pergelangan kaki yang kaku, maka akan terjadi hal sebaliknya yaitu pronasi yangkurang. Kaki tampak memiliki lengkung yang sangat tinggi dan tidak dapat menyerap goncangandengan baik, sehingga meningkatkan resiko terjadinya retakan kecil dalam tulang kaki dantungkai (fraktur karena tekanan) (Gleim et al. 1997).c. Kelemahan Otot, Tendon & Ligamen.Jika mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya, maka otot,tendon dan ligamen akan mengalami robekan. Sendi lebih peka terhadap cedera jika ototligamen yang menyokongnya lemah. Tulang yang rapuh karena osteoporosis mudah mengalamipatah tulang (fraktkur). Latihan penguatan bisa membantu mencegah terjadinya cedera. Satusatunyacara untuk memperkuat otot adalah berlatih melawan tahanan, yang secara bertahapkekuatannya ditambah (Meeuwisse 1994). 2.2. PATOFISIOLOGI DAN DIAGNOSIS CEDERA OLAHRAGASecara umum patofisiologi terjadinya cedera berawal dari ketika sel mengalamikerusakan, sel akan mengeluarkan mediator kimia yang merangsang terjadinya peradangan.Mediator tadi antara lain berupa histamin, bradikinin, prostaglandin dan leukotrien. Mediatorkimiawi tersebut dapat menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah serta penarikan populasi selsel kekebalan pada lokasi cedera. Secara fisiologis respon tubuh tersebut dikenal sebagai prosesperadangan. Proses peradangan ini kemudian berangsur-angsur akan menurun sejalan denganterjadinya regenerasi proses kerusakan sel atau jaringan tersebut(Van Mechelen et al. 1992).Selain berdasarkan tanda dan gejala peradangan, diagnosis ditegakkan berdasarkan keterangandari penderita mengenai aktivitas yang dilakukannya dan hasil pemeriksaaan penunjang.a. Gejala Cedera OlahragaTanda akut cedera olahraga yang umumnya terjadi adalah tanda respon peradanagantubuh berupa tumor ( pembengkakaan), kalor (peningkatan suhu), rubor (warna merah), dolor(nyeri) dan functio leissa (penurunan fungsi). Nyeri pertama kali muncul jika serat-serat ototatau tendon yang jumlahnya terbatas mulai mengalami robekan.Selain nyeri muncul tandaradang seperti bengkak, kemerahan, panas dan penurunan fungsi. Pada proses lanjut tandatandaperadangan tersebut akan berangsur angsur menghilang. Apabila tanda peradangan awalcukup hebat, biasanya rasa nyeri masih dirasakan samapai beberapa hari setelah onset cedera.Kelemahan fungsi berupa penurunan kekuatan dan keterbatasan jangakauan gerak juga seringdijumpai (Stevenson et al. 2000).b. Pemeriksaan diagnostikPemeriksaan diagnostik dilakukan untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari anamnesis(wawancara dengan penderita) serta pemeriksaan fisik. Pemeriksaan diagnostik yang dilakukandapat berupa CT scan MRI, artroskopi, elektromyografi dan foto rontgen. 2.3. JENIS CEDERA OLAHRAGA DAN PENANGANANNYAMenurut Bahr (2003) secara umum macam-macam cedera yang mungkin terjadi adalah:cedera memar, cedera ligamentum, cedera pada otot dan tendo, perdarahan pada kulit, danpingsan. Struktur jaringan di dalam tubuh yang sering terlibat dalam cedera olahraga adalah:otot, tendo, tulang, persendian termasuk tulang rawan, ligamen, dan fasia a. Memar (Contusio)Memar adalah keadaan cedera yang terjadi pada jaringan ikat dibawah kulit. Memarbiasanya diakibatkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di bawah permukaan kulitrusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringansekitarnya. Memar ini menimbulkan daerah kebiru-biruan atau kehitaman pada kulit. Apabilaterjadi pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut hermatoma(Van Mechelen et al. 1992). Nyeri pada memar biasanya ringan sampai sedang danpembengkakan yang menyertai sedang sampai berat. Adapun memar yang mungkin terjadi padadaerah kepala, bahu, siku, tangan, dada, perut dan kaki. Benturan yang keras pada kepala dapatmengakibatkan memar dan memungkinkan luka sayat.Penanganan Cedera Memar1. Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk menghentikan pendarahan kapiler.2. Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan mempercepat pemulihan jaringanjaringanlunak yang rusak.3. Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan maupun pertandingan berikutnya.b. Cedera pada Otot atau Tendo dan LigamenMenurut Van Mechelen (2004) cedera pada ligamentum dikenal dengan istilah sprain
sedangkan cedera pada otot dan tendo dikenal sebagai strain.1) SprainSprain adalah cedera pada ligamentum, cedera ini yang paling sering terjadi pada
berbagai cabang olahraga.” hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak ataupenggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi.Berdasarkan Van Mechelen (2003) berat ringannya cedera sprain dibagi menjadi tiga tingkatan,yaitua) Sprain Tingkat IPada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapaserabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa sakit padadaerah tersebut.b) Sprain Tingkat IIPada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebihseparuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan,pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendiantersebut.c) Sprain Tingkat IIIPada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah.Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian,pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan–gerakan yang abnormal.2) StrainStrain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan yang
berlebihan ataupun stress yang berlebihan. Bahr (2003)membagi strain menjadi 3 tingkatan,yaitu:2) StrainStrain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan yang
berlebihan ataupun stress yang berlebihan. Bahr (2003)membagi strain menjadi 3 tingkatan,yaitu:a) Strain Tingkat IPada strain tingkat I, terjadi regangan yang hebat, tetapi belum sampai terjadi robekanpada jaringan otot maupun tendon.b) Strain Tingkat IIPada strain tingkat II, terdapat robekan pada otot maupun tendon. Tahap inimenimbulkan rasa nyeri dan sakit sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.c) Strain Tingkat IIIPada strain tingkat III, terjadi robekan total pada unit musculo tendineus. Biasanyahal ini membutuhkan tindakan pembedahan, kalau diagnosis dapat ditetapkan.Adapun strain dan sprain yang mungkin terjadi dalam cabang olahraga renang yaitu punggung,dada, pinggang, bahu, tangan, lutut, siku, pergelangan tangan dan pergelangan kaki.Penanganan Strain dan Sprain
Bahr (2003) menyatakan bebrapa hal dapat mengatasi strain dan sprain yaitu :(a) Sprain/strain tingkat satuPada keadaan ini, bagian yang mengalami cedera cukup diistirahatkan untuk memberikesempatan regenerasi.(b) Sprain/strain tingkat duaPada keadaan ini penanganan yang dilakukan adalah berdasarkan prinsip RICE (Rest,
Ice, Compession and Elevation). Tindakan istirahat yang dilakukan sebaiknya dalam bentuk
fiksasi dan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapatdigerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Tindakan imobilisasi dilakukan selama3-6 minggu. Terapi dingin yang dilakukan dilakukan pada fase awal cedera. Pada fase lanjutterapi dingin digantikan dengan terapi panas. Pada keadaan subkronis dimana tanda tandaperadangan sudah menurun dilakukan terapi manual berupa massage. Pada fase akhir dapatdilakukan terapi latihan untuk memaksimalkan proses penyembuhan.(c) Sprain/strain tingkat tigaPada keadaan ini, penderita diberi pertolongan pertama dengan metode RICE dansegera diikirim kerumah sakit untuk dijahit dan menyambung kembali robekan ligamen, ototmaupun tendo.c. DislokasiDislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya. Dislokasiyang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi di bahu, angkle (pergelangan kaki), lututdan panggul. Faktor yang meningkatkan resiko dislokasi adalah ligamen-ligamennya yangkendor akibat pernah mengalami cedera, kekuatan otot yang menurun ataupun karena faktoreksternal yang berupa tekanan energi dari luar yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalamtubuh (Stevenson et al. 2000). Penanganan DislokasiMenurut Stevenson (2000) prinsip dasar penanganan dislokasi adalah reposisi. Reposisipada keadaan akut (beberapa saat setelah cedera sebelum terjadinya respon peradangan) dapatdilakukan dengan lebih mudah. Pada keadaan akut dimana respon peradanagan sudah terjadi,reposisi relatif sukar untuk dilakukan. Pada keadaan ini, direkomendasikan untuk menungguberkurangnya respon peradangan. Pada keadaan kronis dimana respon peradanagn sudahberkurang, reposisi dapat dilakukan dengan jalan melemaskan kembali persendian supaya dapatdilakukan penarikan dan pergeseran tulang dengan lebih mudah. Pelemasan jaringan persendiandapat dilakukan dengan terapi panas maupun dengan manual therapy pada bagian proksimal dandistal lokasi yang mengalami dislokasi. Penanganan yang dilakukan pada saat terjadi dislokasiadalah melakukan reduksi ringan dengan cara menarik persendian yang bersangkutan padasumbu memanjang. Setelah reposisi berhasil dilakukan, sendi tersebut difiksasi selama 3-6minggu untuk mengurangi resiko terjadinya dislokasi ulang. Apabila rasa nyeri sudah minimal,dapat dilakukan exercise therapy secara terbatas untuk memperkuat struktur persendian danmemperkecil resiko dislokasi ulang (Meeuwisse 1994). d. Patah Tulang (Fraktur)Patah tulang adalah suatu keadaan yang mengalami keretakan, pecah atau patah, baikpada tulang maupun tulang rawan. Bahr (2003) membagi fraktur berdasarkan continuitas
patahan, patah tulang dapat digolongkan menjadi dua yaitu:1. Patah tulang komplek, dimana tulang terputus sama sakali.2. Patah tulang stress, dimana tulang retak, tetapi tidak terpisah.Sedangkan, berdasarkan tampak tidaknya jaringan dari bagian luar tubuh, Bahr (2003) membagipatah tulang manjadi:1. Patah tulang terbuka dimana fragmen (pecahan) tulang melukai kulit diatasnya dan tulangkeluar.2. Patah tulang tertutup dimana fragmen (pecahan) tulang tidak menembus permukaan kulit.Penanganan Patah TulangHal yang harus dilakukan pada keadaan patah tulang adalah olahragawan tidak bolehmelanjutkan pertandingan. Penderita harus segera direposisi oleh tenaga medis secepat mungkin dalam waktu kurang dari lima belas menit, sebelum terjadi respon peradangan jaringan lunakyang dapat mengganggu proses reposisi. Setelah dilakukan reposisi bagian yang mengalamipatah tulang kemudian difiksasi dengan spalk balut tekan untuk mempertahankan kedudukanyang baru, serta menghentikan perdarahan.e. Kram OtotKram otot adalah kontraksi yang terus menerus yang dialami oleh otot atausekelompok otot dan mengakibatkan rasa nyeri. penyebab kram adalah otot yang terlalu lelah,kurangnya pemanasan serta peregangan, adanya gangguan sirkulasi darah yang menuju ke ototsehingga menimbulkan kejang (Parkkari et al. 2001). Beberapa hal yang dapat menimbulkankram antara lain adalah :1. Kelelahan otot saat berolahraga sehingga terjadi akumulasi sisa metabolik yangmenumpuk berupa asam laktat kemudian merangsang otot/ saraf hingga terjadi kram.2. Kurang memadainya pemanasan serta pendinginan sehingga tubuh kurang memilikikesempatan untuk melakukan adaptasi terhadap latihan (Parkkari et al. 2001).Penanganan KramPenanganan cedera pada umumnya terhadap kram otot yang dilakukan adalah sebagai berikut:1. Atlet diistirahatkan, diberikan semprotan chlor ethyl spray untuk menghilangkan rasanyeri/sakit yang bersifat lokal dan atau es.2. Menahan otot waktu berkontraksi supaya myiosin filament dan actin myosin dapatmenduduki posisi yang semestinya sehingga kram berhenti. Pada waktu ditahan dapatdisemprot dengan chlor etyl spray, hingga hilang rasa nyeri.f. PerdarahanPerdarahan terjadi karena pecahnya pembuluh darah sebagai akibat dari trauma pukulanatau terjatuh. Gangguan perdarahan yang berat dapat menimbulkan gangguan sirkulasi sampaimenimbulkan shocks (gangguan kesadaran) (Van Mechelen et al. 1992). Penanganan PerdarahanPendarahan pada HidungPada perdarahan hidung, hal yang harus dikontrol terutama adalah airway (jalan nafas)dan breathing (pernapasan). Menurut Bahr (2003), beberapa hal yang dapat dilakukan adalah :(1) Penderita didudukan, batang hidung dijepit sedikit kebawah tulang rawan hidung,dalam posisi ibu jari berhadapan dengan jari-jari yang lain. Hal ini dilakukan kurang lebih 5menit dengan jari tangan sementara penderita dianjurkan bernafas melalui mulut(2) Hidung dan mulut dibersihkan dari bekas-bekas darah. Biasanya pendarahan akanberhasil dihentikan. Sebaiknya juga diberikan kompres dingin disekitar batang hidung, sekitarmata hingga pipi.(3) Bila pemijatan tidak berhasil, maka atlet harus diberi perlotongan oleh dokter ataudibawa kerumah sakit. Pada keadaan ini kemungkinan besar perdarahan disertai patah tulang,kadang-kadang deformitas dapat terjadi.(4) Bila terjadi fraktur atau retak pada tulang hidung, maka untuk menghentikanpendarahan pada hidung tidak boleh dipijit, tetapi hanya diberi kompres dingin saja, lalu dikirimkerumah sakit. Pada keadaan ini, tidak diperkenankan untuk meniupkan udara dari hidungdengan paksa untuk mengeluarkan bekuan-bekuan darah, karena ini dapat menimbulkan emboliparu.b) Pendarahan pada mulutSeperti halnya pada perdarahan hidung, penanganan perdarahan pada mulut harusmemperhatikan aspek airway (jalan napas) dan breathing (pernapasan). Beberapa hal yang dapatdilakukan antara lain adalah:(1) Pendarahan dari bibir atau gusi dihentikan dengan penekanan secara langsung dankompres dingin.(2) Apabila gigi goyang atau fraktur, gigi tidak boleh dicabut dan atlet dikirim untuk  penanganan lanjut di dokter gigi.g. Kehilangan Kesadaran (Pingsan)Pingsan adalah keadaan kehilangan kesadaran yang bersifat sementara dan singkat, disebabkan oleh berkurangnya aliran darah, oksigen, dan glukosa. Hal merupakan akibat dari (1)Aktivitas fisik yang berat sehingga mennyebabkan deposit oksigen sementara. (2) Pengalirandarah atau tekanan darah yang menurun karena pendarahan hebat. (3) Karena jatuh dan benturan.Terdapat beberapa macam penyebab pingsan yaitu:a) Pingsan biasa (simple fainting)Pingsan jenis ini misalnya dijumpai pada orang-orang berdiri berbaris diterik matahari,atau orang yang anemia (kurang darah), lelah, takut, tidak tahan melihat darah.b) Pingsan karena panas (heat exhaustion)Pingsan jenis ini terjadi pada orang-orang sehat bekerja ditempat yang sangat panas. Penanganan Kehilangan Kesadaran (Pingsan)(1) Mengeluarkan atau membawa olahragawan ke tempat yang tenang dengan posisiterlentang dan kepala tanpa bantal.(2) Melakukan pemeriksaan dengan lebih teliti lagi mengenai refleks pupil. Jika ditemukanantara pupil mata kanan dan kiri (anisokur) ini berarti bukan semata-mata gegar ringantetapi dalam keadaan gawat. h. LukaLuka didefinisikan sebagai suatu ketidaksinambungan dari kulit dan jaringan dibawahnyayang mengakibatkan pendarahan yang kemudian dapat mengalami infeksi. Seluruh tubuhmempunyai kemungkinan besar untuk mengalami luka, karena setiap perenang akan melakukankontak langsung pada saat latihan dan bisa juga luka karena peralatan yang dipakai. (Stevensonet al. 2000)
Penanganan LukaLuka dibersihkan dari kotoran dengan jalan dicuci dengan hidrogen peroksida (H202) 3%yang bersifat antiseptik (membunuh bibit penyakit), detol atau betadine, PK (kalium permangat)ataupun dengan sabun. Setelah luka dikeringkan lalu diberikan obat-obatan yang mengandungantiseptik dan bersifat mengeringkan luka, misalnya: obat merah, yodium tingtur, larutanbetadine pekat. Apabila luka robek lebih dari 1cm, sebaiknya dijahit.b) Apabila lepuhnya robek, kulit dipotong kemudian dibersihkan dan dibebat dengan bahan yangtidak melekat. Apabila lepuh utuh dan tidak mudah robekluk langsung dibersihkan dan dibebat dengan bahan yang tidak melekat (Stevenson et al. 2000).
 2.4. PENCEGAHAN CEDERA OLAHRAGAMenurut Stevenson (200), beberapa hal yang perlu dilakukan untukmencegah terjadinya cederaolahraga antara lain adalah:a)      1. Pemeriksaan awal sebelum melakukan olahraga untuk menentukan ada tidaknya
b)      kontraindikasi dalam berolahraga
c)      2. Melakukan olahraga sesuai dengan kaidah baik, benar, terukur dan teratur
d)     3. Menggunakan sarana yang sesuai dengan olahraga yang dipilih
e)      4. Memperhatikan kondisi prasarana olahraga
f)       5. Memperhatikan lingkungan fisik seperti suhu dan kelembaban udara sekelilingnya                  BAB IIIPENUTUP 3.1 KesimpulanPada umumnya penatalaksanaan cedera olahraga menggunakan prinsip RICE (Rest, Ice,
Compression, Elevation) yang selalu diterapkan pada fase akut cedera sebelum penanganan
selanjutnya. Indikasi RICE dilakukan pada cedera akut atau kronis eksaserbasi akut, sepertihematome (memar), sprain, strain, patah tulang tertutup, dislokasi setelah dilakukan reposisi.Secara umum penanganan cedera olahraga disesuaikan dengan jenis cedera dan prosespatofisiologi cedera yang mendasari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegahterjadinya cedera olahraga antara lain adalah perlu dilakukan kegiatan pemanasan denganmelibatkan latihan dinamis maupun statis dan perlu dilakukan pengaturan progresi latihan yang baik agar latihan dapat diadaptasi dengan baik oleh tubuh 3.2 SaranTujuan akhir dari penanganan cedera olahraga adalah untuk memaksimalkan proses pemulihancedera serta untuk meminimalkan terjadinya resiko cedera ulang      DAFTAR PUSTAKAv  Bahr, R. and I. Holme (2003). "Risk factors for sports injuries—a methodological approach." British journal of sports medicine 37(5): 384.
v  Gleim, G. W. and M. P. McHugh (1997). "Flexibility and its effects on sports injury and performance." Sports Medicine 24(5): 289299.
v  Meeuwisse, W. H. (1994). "Assessing causation in sport injury: a multifactorial model." Clinical Journal of Sport Medicine 4(3): 166.
v  Parkkari, J., U. M. Kujala, et al. (2001). "Is it Possible to Prevent Sports Injuries?: Review of Controlled Clinical Trials and Recommendations for Future Work." Sports Medicine 31(14): 985995.
v  Stevenson, M. R., P. Hamer, et al. (2000). "Sport, age, and sex specific incidence of sports injuries in Western Australia." British journal of sports medicine 34(3): 188.
v  Van Mechelen, W., H. Hlobil, et al. (1992). "Incidence, severity, aetiology and prevention of sports injuries. A review of concepts." Sports Medicine (Auckland, NZ) 14(2): 82.